PERAN
WANITA DALAM PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA
Memandang jauh kebelakang, peran
wanita selama ini sering terabaikan dalam sejarah perjuangan dan pembangunan
manusia Indonesia. Dalam buku sejarah bangsa, tentunya kita lebih banyak
mengenal tokoh-tokoh pahlawan berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan
sehingga tidak banyak yang tahu seberapa besar peran perempuan dalam
terwujudnya sebuah bangsa bernama Indonesia. Hal ini diperparah dimana bangsa
Indonesia pernah menjalani sistem kolonial dan feodal, dimana perempuan pada
masa kolonial memang tidak mendapatkan kesempatan yang besar untuk berkiprah
diruang publik sebagaimana layaknya laki-laki.
Jika diteliti lebih jauh, ada beberapa peran penting
perempuan didalam tonggak perjuangan bangsa yang bisa diidentifikasi, yang pertama
adalah membangun dirinya sebagai karakter individu yang mandiri. Kedua,
membangun kesadaran nasionalisme dengan membangun kesadaran identitas
berbangsa. Dan yang Ketiga, berusaha menentang kekuasaan kolonial belanda baik secara
langsung maupun tidak langsung (Adji, 2009).
Muhammad Adji (2009) dalam peran perempuan
indonesia dan perjuangan kebangsaan yang mengkaji Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer mengatakan, bahwa Sosok
Nyai Ontosoroh sebagai sosok perempuan tidak pernah tercatat dalam sejarah
perjuangan bangsa Indonesia. Bukan saja karena ia merupakan tokoh fiktif,
tetapi juga karena ia merupakan representasi dari masyarakat yang terlupakan
sejarah.
Wanita dan Pembangunan Karakter Bangsa
Pembangunan bangsa dan pembangunan karakter
bangsa adalah dua istilah yang saling dipertautkan antara satu dengan lainnya.
Hal ini dikarenakan artikulasi sebuah bangsa memang berbeda dengan sebuah benda
fisik biasa. Mengutip buku The
Willingness To Change, Soemarsono (2005) menyatakan bahwa Karakter sendiri
merupakan tata nilai yang mewujud dalam sistem daya dorong atau driving system yang melandasi pemikiran,
sikap, dan perilaku.
Pembangunan karakter pada hakikatnya adalah
penanaman nilai serta pelatihannya dalam keluarga yang dimulai sejak dini,
Soemarsono(2005). Bila hal ini terkondisikan, dapat membentuk kebiasaan akan
sikap dan perilaku yang didasari atas nilai-nilai yang sudah tertanam dan
diyakini dalam dirinya. Tentunya, sosok orang tua menjadi sentral, dimana anak
mencontoh keteladanan dari sosok orang terdekatnya, dalam hal ini Ayah dan Ibu.
Wanita dan pembangunan karakter bangsa adalah
hal yang tidak bisa dipersepsikan secara parsial. Kedua hal tersebut merupakan instrumen
penting untuk memelihara nilai-nilai budi pekerti suatu bangsa. Didalam lingkup
terkecil dalam suatu keluarga, Peran Ibu masih terlihat sentral didalam menjaga
keharmonisan keluarga serta mengawal perkembangan kepribadian seorang anak,
dimana sosok Ibu dan dunia pendidikan saling bersinergi untuk mendidik dan
menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang baik sebagai proses awal pembentukan
jati diri seorang anak. Ibu yang baik tentunya mengajarkan nilai-nilai dan
prinsip kebaikan universal dengan tujuan menanamkan kepribadian luhur unuk
generasi penerusnya, anak yang baik akan mencari nilai-nilai dan prinsip-prinsip
sesuai dengan ajaran yang ditanamkan oleh keluarga dan lingkungan tumbuh
kembangnya, nilai dan prinsip ini akan menumbuhkan semangat dan karakter
pribadi luhur, yang berujung pada kekokohan karakter sebuah bangsa.
Pepatah bangsa Jepang mengatakan, akan lebih
baik didalam suatu keluarga kecil kehilangan seorang ayah, karena hanya Ayah
saja yang hilang. Tetapi jikalau dalam suatu keluarga kecil kehilangan seorang
Ibu, maka bisa dipastikan kemungkinan besar akan hilangnya satu generasi. Disini
terlihat bagaimana bangsa jepang sangat mengakui peran dan sosok ibu didalam
mendidik anak, menjaga keberlangsungan keluarga dan indikator kesuksesan suatu generasi. Pada proses
pembangunan karakter, dimana bekal nilai, prinsip, dan karakter kebaikan
universal diajarkan oleh seorang ibu, tahap demi tahap kepribadian seorang anak
tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan nilai-nilai yang diajarkan
yang membentuk pola pikir dan mental anak. Proses ini berulang hari demi hari,
bulan demi bulan dan tahun demi tahun, memahat kepribadian anak secara kokoh
sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan yang berujung pada terbentuknya
karakter seorang anak..
Dalam buku karakter bangsa dari gelap menuju
terang, soemarno soedarsono (2009) mengutip bahwa Bung Karno pernah mengatakan,
“bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building), karena character building inilah yang akan membuat
Indonesia menjadi bangsa yang besar , maju dan jaya serta bermartabat. Jikalau character building ini tidak dilakukan
maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli. Mahatma Gandhi mengatakan hal
yang sama, “kualitas karakter adalah satu-satunya faktor penentu derajat
seseorang dan bangsa”. Pembangunan bangsa sebagai proses budaya
akan secara terus menerus berlangsung
dan akan mengalami penyempurnaan dalam dimensi strategi maupun implementasinya.
Dengan munculnya bias-bias yang terjadi diperlukan reorientasi dalam pendekatan
dan strateginya. Prioritas pembangunan yang menekankan bidang ekonomi perlu
lebih diimbangi dengan pembangunan bidang sosial budaya. Pembangunan sumber
daya manusia (SDM) perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Dalam
perspektif ke depan pendekatan yang lebih pada “pemberdayaan sumber daya manusia” perlu dikembangkan, dimana pembangunan
watak dan karakter perlu lebih diprioritaskan (Saliman, 2010). Tentunya peran
sentral seorang Ibu, sebagai pemberdaya generasi penerusnya terasa semakin
vital didalam menjaga dan menanamkan nilai-nilai jati diri untuk generasi
selanjutnya.
Berkaitan dengan
hal diatas, strategi “pembangunan karakter bangsa” menjadi penting didalam
mewujudkan manusia Indonesia yang lebih berbudaya dan bermartabat.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan perlu diarahkan pada pembentukan dan
penguatan fondasi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat agar memiliki
ketahanan budaya. Stigma dimana peran perempuan yang selama ini masih
terabaikan didalam pembangunan karakter keluarga dan bangsa perlu dikikis dan dihilangkan.
Strategi Pembangunan Karakter
Berdasarkan uraian diatas, maka terdapat empat
hal penting yang harus diperhatikan ketika ingin membangun bangsa melalui
pendidikan berbasis karakter ini, yakni melalui: (1) pembiasaan; (2) contoh
atau tauladan; (3) pendidikan/pembelajaran secara terintegrasi; (4) Koordinasi
dan revitalisasi gerakan kebangsaan bersama generasi muda yang diarahkan
terutama pada penguatan ketahanan masyarakat.
Ibn Miskawaih (1998) salah seorang pakar
moral dan etika dalam bukunya “Tahdzib Al
Akhlaq” menegaskan bahwa “karakter manusia terletak pada pikirannya, dan
dapat dicapai melalui pendidikan dan pergaulan, pengulangan atau kebiasaan dan
disiplin”. Terlihat jelas bagaimana pikiran termanifestasi kedalam kata-kata,
kata-kata termanifestasi kedalam tindakan, tindakan termanifestasi kedalam
perbuatan, dan perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang bisa
menggambarkan kebiasaan seseorang. Kebiasaan-kebiasaan tersebut pada dasarnya
menyusun karakter kita (Stephen R Covey).
Keteladanan dalam pendidikan
merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil atau membekas
dalam mempersiapkan dan membentuk karakter serta moral anak. Sesungguhnya
sangat mudah mengajar anak tentang berbagai materi pembelajaran, tetapi akan
menjadi teramat sulit bagi anak untuk menerima dan melaksanakan pembelajaran
tersebut ketika ia melihat orang yang memberikan pengarahan dan bimbingan
kepadanya bersikap sebaliknya. Disni sosok wanita (Ibu) merupakan parameter
yang harus selalu dijaga ke konsistenannya didalam mengajarkan nilai-nilai
luhur dan sekaligus sebagai pemberi contoh, mengingat sosok Ibu adalah bagian integral
yang tak terpisahkan pada pembentukan pola pikir serta kepribadian anak.
Melalui penekanan akan
pentingnya prinsip-prinsip keempat hal diatas, diharapkan pembangunan karakter
di Indonesia bisa terakselerasi dan berjalan komprehensif disemua lapisan
masyarakat yang bermuara pada ketahanan nasional yang solid.
