Monday, December 19, 2011

peran wanita dalam pembangunan karakter bangsa


PERAN WANITA DALAM PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA
Memandang jauh kebelakang, peran wanita selama ini sering terabaikan dalam sejarah perjuangan dan pembangunan manusia Indonesia. Dalam buku sejarah bangsa, tentunya kita lebih banyak mengenal tokoh-tokoh pahlawan berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan sehingga tidak banyak yang tahu seberapa besar peran perempuan dalam terwujudnya sebuah bangsa bernama Indonesia. Hal ini diperparah dimana bangsa Indonesia pernah menjalani sistem kolonial dan feodal, dimana perempuan pada masa kolonial memang tidak mendapatkan kesempatan yang besar untuk berkiprah diruang publik sebagaimana layaknya laki-laki.
 Jika diteliti lebih jauh, ada beberapa peran penting perempuan didalam tonggak perjuangan bangsa yang bisa diidentifikasi, yang pertama adalah membangun dirinya sebagai karakter individu yang mandiri. Kedua, membangun kesadaran nasionalisme dengan membangun kesadaran identitas berbangsa. Dan yang Ketiga, berusaha menentang kekuasaan kolonial belanda baik secara langsung maupun tidak langsung (Adji, 2009).
Muhammad Adji (2009) dalam peran perempuan indonesia dan perjuangan kebangsaan yang mengkaji Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer mengatakan, bahwa Sosok Nyai Ontosoroh sebagai sosok perempuan tidak pernah tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Bukan saja karena ia merupakan tokoh fiktif, tetapi juga karena ia merupakan representasi dari masyarakat yang terlupakan sejarah.

Wanita dan Pembangunan Karakter Bangsa
Pembangunan bangsa dan pembangunan karakter bangsa adalah dua istilah yang saling dipertautkan antara satu dengan lainnya. Hal ini dikarenakan artikulasi sebuah bangsa memang berbeda dengan sebuah benda fisik biasa. Mengutip buku The Willingness To Change, Soemarsono (2005) menyatakan bahwa Karakter sendiri merupakan tata nilai yang mewujud dalam sistem daya dorong atau driving system yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku.
Pembangunan karakter pada hakikatnya adalah penanaman nilai serta pelatihannya dalam keluarga yang dimulai sejak dini, Soemarsono(2005). Bila hal ini terkondisikan, dapat membentuk kebiasaan akan sikap dan perilaku yang didasari atas nilai-nilai yang sudah tertanam dan diyakini dalam dirinya. Tentunya, sosok orang tua menjadi sentral, dimana anak mencontoh keteladanan dari sosok orang terdekatnya, dalam hal ini Ayah dan Ibu.
Wanita dan pembangunan karakter bangsa adalah hal yang tidak bisa dipersepsikan secara parsial. Kedua hal tersebut merupakan instrumen penting untuk memelihara nilai-nilai budi pekerti suatu bangsa. Didalam lingkup terkecil dalam suatu keluarga, Peran Ibu masih terlihat sentral didalam menjaga keharmonisan keluarga serta mengawal perkembangan kepribadian seorang anak, dimana sosok Ibu dan dunia pendidikan saling bersinergi untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai budi pekerti yang baik sebagai proses awal pembentukan jati diri seorang anak. Ibu yang baik tentunya mengajarkan nilai-nilai dan prinsip kebaikan universal dengan tujuan menanamkan kepribadian luhur unuk generasi penerusnya, anak yang baik akan mencari nilai-nilai dan prinsip-prinsip sesuai dengan ajaran yang ditanamkan oleh keluarga dan lingkungan tumbuh kembangnya, nilai dan prinsip ini akan menumbuhkan semangat dan karakter pribadi luhur, yang berujung pada kekokohan karakter sebuah bangsa.
Pepatah bangsa Jepang mengatakan, akan lebih baik didalam suatu keluarga kecil kehilangan seorang ayah, karena hanya Ayah saja yang hilang. Tetapi jikalau dalam suatu keluarga kecil kehilangan seorang Ibu, maka bisa dipastikan kemungkinan besar akan hilangnya satu generasi. Disini terlihat bagaimana bangsa jepang sangat mengakui peran dan sosok ibu didalam mendidik anak, menjaga keberlangsungan keluarga dan indikator  kesuksesan suatu generasi. Pada proses pembangunan karakter, dimana bekal nilai, prinsip, dan karakter kebaikan universal diajarkan oleh seorang ibu, tahap demi tahap kepribadian seorang anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan nilai-nilai yang diajarkan yang membentuk pola pikir dan mental anak. Proses ini berulang hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, memahat kepribadian anak secara kokoh sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan yang berujung pada terbentuknya karakter seorang anak..
Dalam buku karakter bangsa dari gelap menuju terang, soemarno soedarsono (2009) mengutip bahwa Bung Karno pernah mengatakan, “bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building), karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar , maju dan jaya serta bermartabat. Jikalau character building ini tidak dilakukan maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli. Mahatma Gandhi mengatakan hal yang sama, “kualitas karakter adalah satu-satunya faktor penentu derajat seseorang dan bangsa”. Pembangunan bangsa sebagai proses budaya akan secara  terus menerus berlangsung dan akan mengalami penyempurnaan dalam dimensi strategi maupun implementasinya. Dengan munculnya bias-bias yang terjadi diperlukan reorientasi dalam pendekatan dan strateginya. Prioritas pembangunan yang menekankan bidang ekonomi perlu lebih diimbangi dengan pembangunan bidang sosial budaya. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Dalam perspektif ke depan pendekatan yang lebih pada “pemberdayaan sumber daya manusia” perlu dikembangkan, dimana pembangunan watak dan karakter perlu lebih diprioritaskan (Saliman, 2010). Tentunya peran sentral seorang Ibu, sebagai pemberdaya generasi penerusnya terasa semakin vital didalam menjaga dan menanamkan nilai-nilai jati diri untuk generasi selanjutnya.
Berkaitan dengan hal diatas, strategi “pembangunan karakter bangsa” menjadi penting didalam mewujudkan manusia Indonesia yang lebih berbudaya dan bermartabat. Langkah-langkah yang perlu dilakukan perlu diarahkan pada pembentukan dan penguatan fondasi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat agar memiliki ketahanan budaya. Stigma dimana peran perempuan yang selama ini masih terabaikan didalam pembangunan karakter keluarga dan bangsa perlu dikikis dan dihilangkan.

Strategi Pembangunan Karakter
Berdasarkan uraian diatas, maka terdapat empat hal penting yang harus diperhatikan ketika ingin membangun bangsa melalui pendidikan berbasis karakter ini, yakni melalui: (1) pembiasaan; (2) contoh atau tauladan; (3) pendidikan/pembelajaran secara terintegrasi; (4) Koordinasi dan revitalisasi gerakan kebangsaan bersama generasi muda yang diarahkan terutama pada penguatan ketahanan masyarakat.
Ibn Miskawaih (1998) salah seorang pakar moral dan etika dalam bukunya “Tahdzib Al Akhlaq” menegaskan bahwa “karakter manusia terletak pada pikirannya, dan dapat dicapai melalui pendidikan dan pergaulan, pengulangan atau kebiasaan dan disiplin”. Terlihat jelas bagaimana pikiran termanifestasi kedalam kata-kata, kata-kata termanifestasi kedalam tindakan, tindakan termanifestasi kedalam perbuatan, dan perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang bisa menggambarkan kebiasaan seseorang. Kebiasaan-kebiasaan tersebut pada dasarnya menyusun karakter kita (Stephen R Covey). 
Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil atau membekas dalam mempersiapkan dan membentuk karakter serta moral anak. Sesungguhnya sangat mudah mengajar anak tentang berbagai materi pembelajaran, tetapi akan menjadi teramat sulit bagi anak untuk menerima dan melaksanakan pembelajaran tersebut ketika ia melihat orang yang memberikan pengarahan dan bimbingan kepadanya bersikap sebaliknya. Disni sosok wanita (Ibu) merupakan parameter yang harus selalu dijaga ke konsistenannya didalam mengajarkan nilai-nilai luhur dan sekaligus sebagai pemberi contoh, mengingat sosok Ibu adalah bagian integral yang tak terpisahkan pada pembentukan pola pikir serta  kepribadian anak.

Melalui penekanan akan pentingnya prinsip-prinsip keempat hal diatas, diharapkan pembangunan karakter di Indonesia bisa terakselerasi dan berjalan komprehensif disemua lapisan masyarakat yang bermuara pada ketahanan nasional yang solid.

No comments: